Adab Dan Hukum Meminjamkan Uang Kepada Orang Lain Hutang-Piutang


Pengetian Pinjam Meminjam
Islam Adalah Agama Yang Menghendaki Kemudahan Bagi Sesama, Yang Kesulitan Keuangan Dapat Pinjam Pada Yang Memiliki Kelebihan, Baik Itu Tanpa Jaminan Atau Dengan Jaminan. Namun Masalahnya Adalah Jika Hutang Ini Telah Menjadi Hoby Atau Kebiasaan Karena Ketidakberdayaannya Mengendalikan Nafsu Yang Tak Pernah Terpuaskan.

Disinilah Kita Perlu Bijak Menyikapi, Antara Membantunya Atau Menolaknya. Kalaupun Membantunya Maka Ikhlaslah Dalam Niat, Dan Jika Menolaknya Juga Bukan Karena Benci Pada Personnya Hingga Membuat Kita Berakhlaq Buruk Padanya, Tapi Niatkan Untuk Mencegahnya Dari Berbuat Dzolim -Yaitu Ingkar Janji Dan Tidak Membayar Hutang-, Sebagaimana Yang Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wasallam Sabdakan;

Dari Abu Humaimah Ra Dari Nabi Saw Berkata : Pinjaman Itu Harus Dikembalikan Dan Orang Yang Meminjam Dalah Orang Yang Berhutang Dan Hutang Harus Dibayar (Hr Tharmizi)
Pada Hadist Lain Juga Dikatakan Sebagai Berikut :
“Sampaikanlah Amanat Dari Orang Yang Memberikan Amanat Kepadamu Dan Janganlah Kamu Khianat Sekalipun Ia Khianat Kepadamu”  (Hr Abu Daud)

Adab Dan Hukum Meminjamkan Uang Kepada Orang Lain Hutang-Piutang



 Hadist Lain Juga Menerangkan Bahwa :
 “Siapa Yang Meminjam Harta Manusia Dengan Niat Membayarkannya Maka Allah Akan Membayarnya Dan Barang Siapa Yang Meminjanm Dengan Niat Melenyapkannya Maka Allah Akan Melenyapkan Hartanya. ( Hr: Bukhairi)”
Dalam Bahasa Arab Pinjam Meminjam Adalah Al Ariyah.  Arti Dari Al Ariyah Adalah Memberikan Barang Atau Benda Kepada Seseorang Dengan Tujuan Orang Tersebut Bisa Mengambil Manfaat Dari Benda Tersebut Tanpa Merusak Benda Atau Barang Tersebut Dan Dikembalikan Dalam Keadaan Utuh.
Sedang Kan Menurut Istilah Pinjam Meminjan Atau Al Ariyah Ada Beberapa Pendapat Sebagai Berikut :
A.    Ulama Hanafiyah – Pinjaman Adalah Mengambil Manfaaat Dari Suatu Barang Secara Cuma-Cuma
B.     Ulama  Syafiiyah – Membolehkan  Mengambil Manfaat Dari   Suatu Barang Kepada Seseorang  Tanpa Merusak Sehingga Bisa Dikembalikan.
C.     Ulama Malikiyah- Pinjaman Adalah Mengambil Keuntungan Atau Manfaat  Dalam Waktu Tertentu  Tampa Imbalan.
D.    Ulama Hambaliyah – Pinjam Meminjam Adalah Membolehkan Memanfaatkan Suatu Zat Barang Tanpa Imbalan Dalam Waktu Yang Ditentukan.
E.     Ibnu Rif’ah- Pinjaman Adalah Boleh Mengambil Manfaat Dari Suatu Barang Secara Halal Dengan Tidak Merusak Zatnya Agar Bisa Dikembalikan.
Dari Kelima Pendapat Tersebut Dapat Disimpulkan Kalau Al Ariyah Atau Pinjam Meminjam Adalah Membolehkan Mengambil Manfaat Dari Barang Dalam Waktu Tertentu Tanpa Merusak Barang Yang Dipinjam Agar Bisa Dikembalikan Secara Utuh.
Keutamaan Memberi Utang (Pinjaman) Antara Lain Sebagai Berikut:
Ø  Barra Bin Azib Ra Mengatakan Bahwasanya Rasulullah Saw Telah Bersabda: “Barang Siapa Memberi Pinjaman Berupa Unta (Untuk Diambil Air Susunya) Atau Uang Atau Memberikan Tanahnya Untuk Dijadikan Jalan Umum, Baginya Sama Dengan Pahala Memerdekaan Budak.” (Hr Ahmad, Tirmidzi Dan Ibnu Hibban).
Ø   Abdulah Bin Mas’ud Ra Mengungkapkan Bahwasanya Rasulullah Saw Bersabda: “Setiap Pinjaman Adalah Sedekah.”
Jika Mampu Memberi Pinjaman Kepada Orang Lain Dengan Ikhlas, Baginya Terdapat 15 Pahala Meminjamkan Uang Dalam Islam, Berikut Selengkapnya.

1.      Mendapat Kemudahan Urusan Dunia Akherat

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Bersabda, “Barangsiapa Meringankan Sebuah Kesusahan (Kesedihan) Seorang Mukmin Di Dunia, Allah Akan Meringankan Kesusahannya Pada Hari Kiamat. Barangsiapa Memudahkan
Urusan Seseorang Yang Dalam Keadaan Sulit, Allah Akan Memberinya Kemudahan Di Dunia Dan Akhirat. Barangsiapa Menutup ‘Aib Seseorang, Allah Pun Akan Menutupi ‘Aibnya Di Dunia Dan Akhirat. Allah Akan Senantiasa Menolong Hamba-Nya, Selama Hamba Tersebtu Menolong Saudaranya.” (Hr. Muslim No. 2699
2.       Mendapat Rahmat
Dari Jabir Bin ‘Abdillah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Bersabda, “Semoga Allah Merahmati Seseorang Yang Bersikap Mudah Ketika Menjual, Ketika Membeli Dan Ketika Menagih Haknya (Utangnya).” (Hr. Bukhari No. 2076)
3.      Pahala Ketika Menagih Dengan Cara Yang Baik
Dari Ibnu ‘Umar Dan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Bersabda,  “Siapa Saja Yang Ingin Meminta Haknya, Hendaklah Dia Meminta Dengan Cara Yang Baik-Baik Pada Orang Yang Mau Menunaikan Ataupun Enggan Menunaikannya.” (Hr. Ibnu Majah No. 1965. Syaikh Al Albani Mengatakan Bahwa Hadits Ini Shohih)
4.       Pahala Ketika Memberikan Tenggang Waktu
Allah Ta’ala Berfirman,  “Dan Jika (Orang Yang Berhutang Itu) Dalam Kesukaran, Maka Berilah Tangguh Sampai Dia Berkelapangan. Dan Menyedekahkan (Sebagian Atau Semua Utang) Itu, Lebih Baik Bagimu, Jika Kamu Mengetahui.” (Qs. Al Baqarah: 280)
5.      Mendapatkan Naungan Allah
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Bersabda,  “Barangsiapa Memberi Tenggang Waktu Bagi Orang Yang Berada Dalam Kesulitan Untuk Melunasi Hutang Atau Bahkan Membebaskan Utangnya, Maka Dia Akan Mendapat Naungan Allah.” (Hr. Muslim No. 3006)
6.       Mendapat Pahala Sedekah Berlipat Lipat
Dari Sulaiman Bin Buraidah Dari Ayahnya, “Barangsiapa Memberi Tenggang Waktu Pada Orang Yang Berada Dalam Kesulitan, Maka Setiap Hari Sebelum Batas Waktu Pelunasan,  Dia Akan Dinilai Telah Bersedekah. Jika Utangnya Belum Bisa Dilunasi Lagi, Lalu Dia Masih
Memberikan Tenggang Waktu Setelah Jatuh Tempo, Maka Setiap Harinya Dia Akan Dinilai Telah Bersedekah Dua Kali Lipat Nilai Piutangnya.” (Hr. Ahmad, Abu Ya’la, Ibnu Majah, Ath Thobroniy, Al Hakim, Al Baihaqi. Syaikh Al Albani Dalam As Silsilah Ash Shohihah No. 86 Mengatakan Bahwa Hadits Ini Shohih)


7.      Mendapat Ampunan Allah
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Bersabda,  “Dulu Ada Seorang Pedagang Biasa Memberikan Pinjaman Kepada Orang-Orang. Ketika Melihat Ada Yang Kesulitan, Dia Berkata Pada Budaknya: Maafkanlah Dia (Artinya Bebaskan Utangnya). Semoga Allah Memberi Ampunan Pada Kita. Semoga Allah Pun Memberi Ampunan Padanya.”(Hr. Bukhari No. 2078)
8.      Mendapat Syafaat Di Hari Kiamat
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Bersabda,  “Ada Seseorang Didatangkan Pada Hari Kiamat. Allah Berkata (Yang Artinya), “Lihatlah Amalannya.” Kemudian Orang Tersebut Berkata, “Wahai Rabbku. Aku Tidak Memiliki Amalan Kebaikan Selain Satu Amalan. Dulu Aku Memiliki Harta, Lalu Aku Sering Meminjamkannya Pada Orang-Orang. Setiap Orang Yang Sebenarnya Mampu
Untuk Melunasinya, Aku Beri Kemudahan. Begitu Pula Setiap Orang Yang Berada Dalam Kesulitan, Aku Selalu Memberinya Tenggang Waktu Sampai Dia Mampu Melunasinya.” Lantas Allah Pun Berkata (Yang Artinya), “Aku Lebih Berhak Memberi Kemudahan”. Orang Ini Pun Akhirnya Diampuni.” (Hr. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth Mengatakan Bahwa Hadits Ini Shohih)
9.      Pahala Jika Pemberi Hutang Tidak Mengambil Keuntungan Duniawi (Riba)
“Apabila Salah Seorang Kalian Memberi Hutang (Pada Seseorang) Kemudian Dia Memberi Hadiah Kepadanya, Atau Membantunya Naik Ke Atas Kendaraan Maka Janganlah Ia Menaikinya Dan Jangan Menerimanya, Kecuali Jika Hal Itu Telah Terjadi Antara Keduanya Sebelum Itu.” (Hr. Ibnu Majah)
10.  Pahala Lebih Dari Sedekah
Abu Umamah Ra Mengatakan Bahwasanya Rasulullah Saw Bersabda: “Ada Orang Yang Masuk Surga Melihat Tulisan Pada Pintunya: ‘Pahala Bersedekah Adalah Sepuluh Kali Lipat, Sedangkan (Pahala) Memberi Pinjaman Adalah Delapan Belas Kali Lipat.’” Dalam Riwayat Lain Disebutkan Bahwa Orang Tersebut Adalah Rasulullah Saw Sendiri. (Hr Thabrani Dan Baihaqi).
11.   Mendapat Ampunan Allah Sepanjang Hari
Barangsiapa Memberi Tenggang Waktu Pada Orang Yang Berada Dalam Kesulitan, Maka Setiap Hari Sebelum Batas Waktu Pelunasan,  Dia Akan Dinilai Telah Bersedekah. Jika Utangnya Belum Bisa Dilunasi Lagi, Lalu Dia Masih Memberikan Tenggang Waktu Setelah
Jatuh Tempo, Maka Setiap Harinya Dia Akan Dinilai Telah Bersedekah Dua Kali Lipat Nilai Piutangnya.” (Hr. Ahmad, Abu Ya’la, Ibnu Majah, Ath Thobroniy, Al Hakim, Al Baihaqi. Syaikh Al Albani Dalam As Silsilah Ash Shohihah No. 86 Mengatakan Bahwa Hadits Ini Shohih)
12.  Pahala Menolong Orang Lain Dan Silaturahmi
“Telah Menceritakan Kepada Kami Muhammad Bin Abi Ya’quub Al-Kirmaaniy[1] : Telah Menceritakan Kepada Kami Hassaan[2] : Telah Menceritakan Kepada Kami Yuunus[3] : Telah Berkata Muhammad – Ia Adalah Az-Zuhriy[4] – , Dari Anas Bin Maalik Radliyallaahu ‘Anhu, Ia Berkata : Aku Mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallambersabda : “Barangsiapa Yang Suka Diluaskan Rizkinya Dan Ditangguhkan Kematiannya, Hendaklah Ia Menyambung Silaturahim” [Shahiih Al-Bukhaariy No. 2067].
13.  Pahala Membahagiakan Orang Lain
Barang Siapa Yang Membahagiakan Orang Mukmin Lain, Allah Ta’ala Menciptakan 70.000 Malaikat Yang Ditugaskan Memintakan Ampunan Baginya Sampai Hari Kiamat Sebab Ia Telah Membahagiakan Orang Lain.” Kitab Al ‘Athiyyatul Haniyyah.

11 ATURAN UTANG PIUTANG Yang wajib diketahui oleh orang muslimin yang mau berhutang dan orang yang mau memberi hutang menurut al quran dan hadist :
1.      Jangan pernah tidak mencatat utang piutang.
"Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kalian menuliskannya." (QS Al-Baqarah: 282)
2.      Jangan pernah berniat tidak melunasi utang.
"Siapa saja yang berutang, sedang ia berniat tidak melunasi utangnya, maka ia akan bertemu Allah sebagai seorang PENCURI." (HR Ibnu Majah ~ hasan shahih)
3.       Punya rasa takut jika tidak bayar utang, karena alasan dosa yang tidak diampuni dan tidak masuk surga.
"Semua dosa orang yang mati syahid diampuni KECUALI utang". (HR Muslim)
4.      Jangan merasa tenang kalau masih punya utang.
"Barangsiapa mati dan masih berutang satu dinar atau dirham, maka utang tersebut akan dilunasi dengan (diambil) amal kebaikannya, karena di sana (akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham." (HR Ibnu Majah ~ shahih)
5.       Jangan pernah menunda membayar utang.
"Menunda-nunda (bayar utang) bagi orang yang mampu (bayar) adalah kezaliman." (HR Bukhari, Muslim, Nasai, Abu Dawud, Tirmidzi)
6.      Jangan pernah menunggu ditagih dulu baru membayar utang.
"Sebaik-baik orang adalah yang paling baik dalam pembayaran utang. (HR Bukhari, Muslim, Nasai, Abu Dawud, Tirmidzi)
7.      Jangan pernah mempersulit dan banyak alasan dalam pembayaran utang.
"Allah 'Azza wa jalla akan memasukkan ke dalam surga orang yang mudah ketika membeli, menjual, dan melunasi utang." (HR An-Nasa'i, dan Ibnu Majah)
8.      Jangan pernah meremehkan utang meskipun sedikit.
"Ruh seorang mukmin itu tergantung kepada utangnya sampai utangnya dibayarkan." (HR at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
9.      Jangan pernah berbohong kepada pihak yang memberi utang.
"Sesungguhnya, ketika seseorang berutang, maka bila berbicara ia akan dusta dan bila berjanji ia akan ingkar." (HR Bukhari dan Muslim)
10.  Jangan pernah berjanji jika tidak mampu memenuhinya.
"... Dan penuhilah janji karena janji itu pasti dimintai pertanggungjawaban .." (QS Al-Israa': 34)
11.  Jangan pernah lupa doakan orang yang telah memberi utang.
"Barang siapa telah berbuat kebaikan kepadamu, balaslah kebaikannya itu.
Jika engkau tidak menemukan apa yang dapat membalas kebaikannya itu, maka berdoalah untuknya sampai engkau menganggap bahwa engkau benar-benar telah membalas kebaikannya." (HR An-Nasa'i dan Abu Dawud)

Pencarian di google

hukum hutang piutang, hukum tidak memberi pinjaman, hukum hutang piutang dalam islam, adab berhutang dan keutamaan orang yang memberi hutang, pahala meminjamkan uang dalam islam, adab menagih hutang, hukum mengikhlaskan hutang, hadits tentang hutang yang tidak dibayar

Posting Komentar

0 Komentar